Uya menggaruk-garuk kepala sampai membuat ibunya bingung. Sejak membuka buku pelajaran di atas meja makan raut wajah Uya terlihat aneh. Biasanya dia bersikap begitu jika menghadapi PR yang sulit.
“Uya, ada apa?” Tanya ibunya.
Uya hanya menggelengkan kepala kemudian mengeluarkan pensil pendek dari dalam kotak pensil kaleng bergambar Naruto. Pensil itu diketuk-ketukkan di atas buku.
“Ada PR apa hari ini, Nak?” Tanya ibunya lagi.
“Mengarang, Bu. Uya tidak bisa mengarang.” Jawabnya seraya kembali menggaruk kepala. Ini tugas mengarang pertama kali. Bagi Uya, mengarang lebih susah dari mengerjakan PR matematika.
Ibu berhenti menyulam lalu duduk di samping Uya.
“Mengarang itu seperti mengkhayal. Anggap saja Uya ingin sesuatu lalu ditulis di kertas. Nanti lama-lama juga bisa.” Ujar sang ibu.
“Tapi Uya tidak tahu mau menulis apa.” Sungut Uya.
“Ingat minggu lalu Uya dikasih topi oleh Paman Indra? Itu bisa ditulis.” Saran ibu dengan bijak.
Uya Nampak berpikir lalu mulai membayangkan tentang topinya. Cukup lama dia diam dan melamun. Akhirnya Uya masuk ke dalam kamar. Diambilnya topi merah itu lalu diletakkan di atas tempat tidur. Tangannya mulai menulis.
Suatu hari dia melewati sebuah toko yang memajang beragam bentuk topi di etalase. Mulai dari topi pesulap, topi polisi, topi pelukis, topi pak tani, dan juga topi-topi pet biasa. Uya suka dengan topi pet warna merah yang ada huruf U di bagian depan.
Uya merengek-rengek pada ibunya tapi entah kapan akan dibelikan.
Uya duduk di meja makan dengan mata merah pagi harinya. Masih mengantuk. Semalam lagi-lagi tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan topi itu. Terbayang jika ada di kepalanya. Pasti pas. Apalagi jika dikenakan bersama baju kaus Naruto merahnya.
Ibu menyiapkan sarapan nasi putih dan tempe goreng. Ditambah kecap manis kesukaan Uya.
“Nak, nanti di sekolah pasti tertidur lagi di kelas.” Ujar Ibu sambil mengelus kepala Uya.
“Uya mau topi itu, Bu.” Ulang Uya untuk kesekian kali.
Ibu mengangguk.
“Tunggu Ibu punya uang lebih baru beli topi itu, ya. Sekarang tidak banyak langganan Ibu yang memesan sulaman.” Jawab Ibu.
Uya menyuap nasi dengan kepala tertunduk. Bayangan saat mengenakan topi itu semakin jauh. Setelah makan dia langsung berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah Uya duduk di depan kelas yang masih sepi. Bahunya ditepuk oleh Amat, teman sebangkunya.
Ayah Amat seorang pedagang. Sering bepergian keluar kota untuk membeli barang-barang dagangan dan tidak lupa membelikan mainan baru untuk Amat.
Uya membayangkan andai saja ayahnya yang seorang pelaut pulang pasti akan langsung membelikan topi itu. Tidak perlu menunggu sampai lama sekali. Ibu selalu mengatakan bahwa ayah sedang berlayar sangat jauh. Mungkin tahun depan baru pulang. Sejak masuk SD ayahnya belum pernah kembali.
Sepulang sekolah Uya disuruh ibu mengantarkan pesanan ke rumah tante Ina, langganan tetap ibu. Rumah tante Ina cukup jauh. Harus naik angkot sampai dua kali. Padahal hari sangat panas. Lagi-lagi dia membayangkan betapa enaknya jika punya topi. Tidak akan kepanasan.
Uang di saku Uya benar-benar pas untuk angkot. Hanya ada lebih lima ratus rupiah untuk beli minuman saja.
Tante Ina kebetulan ada di rumah dan menerima langsung barang pesanannya. Dia tampak senang dengan hasil sulaman ibu Uya. Dirogohnya saku daster lalu menyerahkan selembar uang seratus ribu pada Uya serta mengatakan uang itu tidak perlu dikembalikan. Buat jajan saja, kata tante Ina.
Uya mengucapkan terima kasih lalu pulang dengan hati gembira.
Di tengah jalan ia berpikiran membelanjakan setengah dari uang di kantongnya untuk membeli topi. Harga topi itu 52 ribu rupiah, sedangkan harga sulaman 50 ribu. Langkahnya terhenti. Jika tetap membeli topi, maka sisa uangnya hanya 48 ribu. Ibunya pasti akan sedih. Uya bingung. Sebentar lagi dia akan melewati toko topi itu. Harus dibeli atau tidak?
Suara kokok ayam sudah lama berlalu tapi Uya justru dibangunkan oleh ibu. Dia tertidur di meja sambil menghimpit buku tugas mengarang. Matanya masih ingin kembali dipejamkan andaikan itu boleh. Lalu dia teringat akan tugas mengarang dari Pak Hendra.
Uya tersenyum. Tugasnya sudah selesai. Tanpa terasa cerita tentang topi itu ditulis dengan lengkap sampai tiga halaman buku.
Sepulang dari rumah tante Ina, Uya begitu terkejut karena topi itu sudah tidak ada di etalase. Dia sedih dan pulang dengan wajah kusut. Diserahkannya semua uang dari tante Ina pada Ibu kemudian mengurung diri di kamar.
Beberapa hari kemudian Paman Indra datang berkunjung dan memberikan kejutan luar biasa untuknya. Tiba-tiba kamarnya dibanjiri dengan berbagai kado. Sampai kebingungan Uya dibuatnya.
Kata Paman Indra semua hadiah dikirim oleh ayah Uya yang sedang berlabuh di Jepang. Hadiah-hadiah itu harus diberikan tepat pada hari ulangtahun Uya yang ke-10, alias hari ini.
Uya membuka satu-persatu kado dengan tidak sabar. Sebagian besar memang berupa mainan, bahkan lebih canggih dari milik Amat. Ada juga buku bacaan dan ensiklopedi. Sepatu bola juga dikirim ayahnya. Meski senang dengan semua itu tapi dia masih memikirkan topi merah.
Seolah mengerti dengan isi pikiran Uya, paman Indra menyerahkan satu kado lagi. Tidak sebesar kado-kado lainnya. Paman Indra dan ibu Uya menunggu kado itu dibuka.
Topi merah! Sorak Uya. Ya. Topi yang dia inginkan selama ini telah ada di tangannya. Ternyata topi itu dibeli oleh paman Indra setelah mendengar cerita dari ibu. Hari itu menjadi sangat istimewa. Uya mencium pipi ibu kemudian memeluk paman Indra serta mengucapkan terima kasih. Dia ingin segera bisa menghubungi ayah dan mengucapkan terima kasih padanya.
Kini Uya tidak pernah lupa memakai topi itu kemana pun dia pergi.
Yogya, 21 Desember 2007, Untukku dan W.
“Uya, ada apa?” Tanya ibunya.
Uya hanya menggelengkan kepala kemudian mengeluarkan pensil pendek dari dalam kotak pensil kaleng bergambar Naruto. Pensil itu diketuk-ketukkan di atas buku.
“Ada PR apa hari ini, Nak?” Tanya ibunya lagi.
“Mengarang, Bu. Uya tidak bisa mengarang.” Jawabnya seraya kembali menggaruk kepala. Ini tugas mengarang pertama kali. Bagi Uya, mengarang lebih susah dari mengerjakan PR matematika.
Ibu berhenti menyulam lalu duduk di samping Uya.
“Mengarang itu seperti mengkhayal. Anggap saja Uya ingin sesuatu lalu ditulis di kertas. Nanti lama-lama juga bisa.” Ujar sang ibu.
“Tapi Uya tidak tahu mau menulis apa.” Sungut Uya.
“Ingat minggu lalu Uya dikasih topi oleh Paman Indra? Itu bisa ditulis.” Saran ibu dengan bijak.
Uya Nampak berpikir lalu mulai membayangkan tentang topinya. Cukup lama dia diam dan melamun. Akhirnya Uya masuk ke dalam kamar. Diambilnya topi merah itu lalu diletakkan di atas tempat tidur. Tangannya mulai menulis.
Suatu hari dia melewati sebuah toko yang memajang beragam bentuk topi di etalase. Mulai dari topi pesulap, topi polisi, topi pelukis, topi pak tani, dan juga topi-topi pet biasa. Uya suka dengan topi pet warna merah yang ada huruf U di bagian depan.
Uya merengek-rengek pada ibunya tapi entah kapan akan dibelikan.
Uya duduk di meja makan dengan mata merah pagi harinya. Masih mengantuk. Semalam lagi-lagi tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan topi itu. Terbayang jika ada di kepalanya. Pasti pas. Apalagi jika dikenakan bersama baju kaus Naruto merahnya.
Ibu menyiapkan sarapan nasi putih dan tempe goreng. Ditambah kecap manis kesukaan Uya.
“Nak, nanti di sekolah pasti tertidur lagi di kelas.” Ujar Ibu sambil mengelus kepala Uya.
“Uya mau topi itu, Bu.” Ulang Uya untuk kesekian kali.
Ibu mengangguk.
“Tunggu Ibu punya uang lebih baru beli topi itu, ya. Sekarang tidak banyak langganan Ibu yang memesan sulaman.” Jawab Ibu.
Uya menyuap nasi dengan kepala tertunduk. Bayangan saat mengenakan topi itu semakin jauh. Setelah makan dia langsung berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah Uya duduk di depan kelas yang masih sepi. Bahunya ditepuk oleh Amat, teman sebangkunya.
Ayah Amat seorang pedagang. Sering bepergian keluar kota untuk membeli barang-barang dagangan dan tidak lupa membelikan mainan baru untuk Amat.
Uya membayangkan andai saja ayahnya yang seorang pelaut pulang pasti akan langsung membelikan topi itu. Tidak perlu menunggu sampai lama sekali. Ibu selalu mengatakan bahwa ayah sedang berlayar sangat jauh. Mungkin tahun depan baru pulang. Sejak masuk SD ayahnya belum pernah kembali.
Sepulang sekolah Uya disuruh ibu mengantarkan pesanan ke rumah tante Ina, langganan tetap ibu. Rumah tante Ina cukup jauh. Harus naik angkot sampai dua kali. Padahal hari sangat panas. Lagi-lagi dia membayangkan betapa enaknya jika punya topi. Tidak akan kepanasan.
Uang di saku Uya benar-benar pas untuk angkot. Hanya ada lebih lima ratus rupiah untuk beli minuman saja.
Tante Ina kebetulan ada di rumah dan menerima langsung barang pesanannya. Dia tampak senang dengan hasil sulaman ibu Uya. Dirogohnya saku daster lalu menyerahkan selembar uang seratus ribu pada Uya serta mengatakan uang itu tidak perlu dikembalikan. Buat jajan saja, kata tante Ina.
Uya mengucapkan terima kasih lalu pulang dengan hati gembira.
Di tengah jalan ia berpikiran membelanjakan setengah dari uang di kantongnya untuk membeli topi. Harga topi itu 52 ribu rupiah, sedangkan harga sulaman 50 ribu. Langkahnya terhenti. Jika tetap membeli topi, maka sisa uangnya hanya 48 ribu. Ibunya pasti akan sedih. Uya bingung. Sebentar lagi dia akan melewati toko topi itu. Harus dibeli atau tidak?
Suara kokok ayam sudah lama berlalu tapi Uya justru dibangunkan oleh ibu. Dia tertidur di meja sambil menghimpit buku tugas mengarang. Matanya masih ingin kembali dipejamkan andaikan itu boleh. Lalu dia teringat akan tugas mengarang dari Pak Hendra.
Uya tersenyum. Tugasnya sudah selesai. Tanpa terasa cerita tentang topi itu ditulis dengan lengkap sampai tiga halaman buku.
Sepulang dari rumah tante Ina, Uya begitu terkejut karena topi itu sudah tidak ada di etalase. Dia sedih dan pulang dengan wajah kusut. Diserahkannya semua uang dari tante Ina pada Ibu kemudian mengurung diri di kamar.
Beberapa hari kemudian Paman Indra datang berkunjung dan memberikan kejutan luar biasa untuknya. Tiba-tiba kamarnya dibanjiri dengan berbagai kado. Sampai kebingungan Uya dibuatnya.
Kata Paman Indra semua hadiah dikirim oleh ayah Uya yang sedang berlabuh di Jepang. Hadiah-hadiah itu harus diberikan tepat pada hari ulangtahun Uya yang ke-10, alias hari ini.
Uya membuka satu-persatu kado dengan tidak sabar. Sebagian besar memang berupa mainan, bahkan lebih canggih dari milik Amat. Ada juga buku bacaan dan ensiklopedi. Sepatu bola juga dikirim ayahnya. Meski senang dengan semua itu tapi dia masih memikirkan topi merah.
Seolah mengerti dengan isi pikiran Uya, paman Indra menyerahkan satu kado lagi. Tidak sebesar kado-kado lainnya. Paman Indra dan ibu Uya menunggu kado itu dibuka.
Topi merah! Sorak Uya. Ya. Topi yang dia inginkan selama ini telah ada di tangannya. Ternyata topi itu dibeli oleh paman Indra setelah mendengar cerita dari ibu. Hari itu menjadi sangat istimewa. Uya mencium pipi ibu kemudian memeluk paman Indra serta mengucapkan terima kasih. Dia ingin segera bisa menghubungi ayah dan mengucapkan terima kasih padanya.
Kini Uya tidak pernah lupa memakai topi itu kemana pun dia pergi.
Yogya, 21 Desember 2007, Untukku dan W.